Beranda / Uncategorized / ini kata legislator pks tentang kebakaran tpa jatiwaringin

ini kata legislator pks tentang kebakaran tpa jatiwaringin

JAKARTA – Anggota Komisi XII DPR Ateng Sutisna menilai kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin menjadi alarm nasional bagi seluruh pemerintah daerah untuk segera memperbaiki tata kelola persampahan. Menurutnya, pengelolaan sampah dengan metode open dumping sudah tidak bisa ditoleransi.

Ateng menilai, kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi gambaran rapuhnya sistem pengelolaan sampah nasional yang masih didominasi praktik open dumping. Ia meminta, pemerintah tidak boleh menganggap kebakaran TPA sebagai persoalan operasional semata, tetapi sebagai ancaman serius terhadap keselamatan masyarakat, kesehatan publik, dan lingkungan.

Jatiwaringin adalah alarm keras bahwa open dumping sudah tidak bisa ditoleransi. Dalam kondisi El-Nino kuat, TPA yang dibiarkan terbuka bisa berubah menjadi tungku api raksasa yang mengancam kesehatan warga dan mencemari udara,” ujar Ateng dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).

Menurutnya, potensi kebakaran TPA tinggi di tengah potensi El-Nino yang melanda Indonesia. Menurutnya, kombinasi El-Nino dan musim kemarau, meningkatkan suhu udara, serta memperbesar risiko kebakaran di berbagai TPA yang masih menggunakan sistem penimbunan terbuka.

ia mengingatkan bahwa pengalaman siklus El-Nino sebelumnya menunjukkan ancaman tersebut bukan sekadar prediksi. Ateng berkata, puluhan TPA di berbagai daerah pernah mengalami kebakaran, sementara hingga kini masih terdapat jutaan ton sampah nasional yang dikelola menggunakan metode open dumping.

Lsgislator dari Fraksi PKS ini mengatakan, ancaman kebakaran tidak selalu berasal dari sumber api di luar. Menurutnya, proses pembusukan sampah organik juga bisa menjadi penyebab kebakaran.

Apalagi, kata dia, proses pembusukan sampah organik secara alami menghasilkan panas dan gas metana. Ketika musim kemarau, panas akan terperangkap di dalam timbunan hingga memunculkan bara api bawah permukaan yang sangat sulit dipadamkan.

“Api di TPA berbeda dengan api di bangunan biasa. Yang terlihat di permukaan sering kali hanya gejalanya. Bara sebenarnya berada jauh di dalam gunungan sampah,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak kebakaran ini jauh lebih kompleks dibandingkan kebakaran biasa. Pembakaran sampah campuran menghasilkan karbon monoksida, partikulat halus (PM2.5 dan PM) hingga potensi dioksin dan furan dari pembakaran plastik yang membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.

Baginya, peristiwa di Jatiwaringin telah memperlihatkan besarnya dampak sosial yang ditimbulkan. “Karena itu, mitigasi kebakaran TPA harus menjadi agenda perlindungan kesehatan masyarakat, bukan hanya urusan teknis dinas lingkungan hidup,” tutur Ateng.(Red)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *